Kelas Komunikasi Asertif HSE/Safety Officer Pabrik Surabaya

| Article

HSE atau Health, Safety, and Environment memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan kerja dan membangun budaya kerja yang aman di lingkungan pabrik. Safety Officer tidak hanya bertugas melakukan inspeksi dan memastikan prosedur keselamatan diterapkan, tetapi juga perlu berkomunikasi secara efektif dengan berbagai pihak di lapangan.

Dalam praktiknya, Safety Officer sering menghadapi situasi ketika harus mengingatkan pekerja, menegur tindakan tidak aman, menyampaikan temuan inspeksi, melakukan koordinasi dengan supervisor, hingga menyampaikan risiko kepada management.

Situasi tersebut membutuhkan kemampuan komunikasi asertif HSE. Komunikasi asertif membantu Safety Officer menyampaikan pesan secara tegas dan jelas tanpa bersikap agresif maupun pasif.

Mengapa Komunikasi Asertif Penting bagi HSE?

Pesan keselamatan harus dapat dipahami dan diterapkan. Jika komunikasi terlalu pasif, pekerja mungkin tidak memahami tingkat keseriusan suatu risiko. Sebaliknya, komunikasi yang terlalu agresif dapat menimbulkan resistensi dan hubungan kerja yang kurang baik.

Komunikasi asertif membantu Safety Officer menyampaikan standar keselamatan dengan cara yang tegas, profesional, dan tetap menghargai orang lain.

Peran Safety Officer dalam Komunikasi Keselamatan

Safety Officer dapat berkomunikasi dengan berbagai pihak, seperti:

  • Operator produksi.
  • Teknisi maintenance.
  • Supervisor.
  • Foreman.
  • Kontraktor.
  • Vendor.
  • Management.
  • Departemen HR dan GA.
  • Engineering.
  • Production.

Setiap kelompok memiliki kebutuhan informasi dan cara berkomunikasi yang berbeda. Karena itu, Safety Officer perlu mampu menyesuaikan cara penyampaian tanpa menghilangkan ketegasan terhadap standar keselamatan.

Tantangan Komunikasi HSE di Lingkungan Pabrik

Beberapa tantangan yang sering muncul antara lain:

  • Pekerja mengabaikan penggunaan APD.
  • Unsafe act berulang.
  • Pekerja merasa ditegur secara berlebihan.
  • Supervisor memiliki prioritas produksi yang tinggi.
  • Kontraktor belum memahami standar perusahaan.
  • Temuan safety tidak segera ditindaklanjuti.
  • Terjadi perbedaan persepsi mengenai risiko.
  • Komunikasi antar shift tidak konsisten.
  • Safety Officer kesulitan menyampaikan temuan kepada pihak yang lebih senior.

1. Memahami Konsep Komunikasi Asertif

Komunikasi asertif merupakan kemampuan menyampaikan pendapat, kebutuhan, batasan, atau pesan secara jelas dan tegas dengan tetap menghargai pihak lain.

Dalam konteks HSE, komunikasi asertif membantu Safety Officer mempertahankan standar keselamatan tanpa perlu menggunakan pendekatan yang mengintimidasi.

2. Membedakan Komunikasi Pasif, Agresif, dan Asertif

Memahami perbedaan ketiga gaya komunikasi penting bagi Safety Officer.

  • Pasif: cenderung menghindari konflik dan tidak menyampaikan pesan secara tegas.
  • Agresif: menyampaikan pesan dengan cara menyerang atau merendahkan pihak lain.
  • Asertif: menyampaikan pesan secara jelas, tegas, profesional, dan menghargai pihak lain.

Tujuan komunikasi HSE bukan memenangkan perdebatan, tetapi memastikan risiko dipahami dan tindakan aman dilakukan.

3. Menyampaikan Teguran dengan Profesional

Ketika menemukan unsafe act, Safety Officer perlu memberikan teguran yang fokus pada perilaku dan risiko.

Contohnya, daripada menggunakan kalimat yang menyerang pribadi, Safety Officer dapat menjelaskan tindakan yang diamati, risiko yang mungkin terjadi, dan tindakan aman yang harus dilakukan.

4. Menggunakan Bahasa yang Jelas

Komunikasi keselamatan sebaiknya menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh penerima pesan.

Safety Officer perlu menghindari istilah yang terlalu teknis apabila audiens belum memahaminya.

5. Menjelaskan Risiko secara Konkret

Pesan keselamatan akan lebih mudah diterima apabila pekerja memahami alasan di balik aturan.

Safety Officer dapat menjelaskan hubungan antara suatu tindakan dengan potensi risiko cedera, kerusakan equipment, gangguan proses, atau konsekuensi lainnya.

6. Membangun Active Listening

Komunikasi bukan hanya berbicara.

Safety Officer juga perlu mendengarkan alasan pekerja ketika terjadi pelanggaran atau ketidaksesuaian.

Dengan mendengarkan, Safety Officer dapat menemukan apakah masalah disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, prosedur yang tidak jelas, tekanan pekerjaan, fasilitas yang tidak tersedia, atau faktor lainnya.

7. Menghadapi Pekerja yang Defensif

Beberapa pekerja mungkin langsung memberikan alasan ketika menerima teguran.

Dalam kondisi tersebut, Safety Officer perlu menjaga ketenangan dan mengarahkan pembicaraan kembali pada fakta, risiko, serta standar yang berlaku.

8. Berkomunikasi dengan Supervisor

Safety Officer sering perlu menyampaikan temuan kepada supervisor.

Komunikasi sebaiknya berisi fakta, risiko, kondisi aktual, standar yang relevan, serta tindakan yang diperlukan.

Pendekatan berbasis data membantu pembicaraan menjadi lebih objektif.

9. Berkomunikasi dengan Management

Ketika menyampaikan isu HSE kepada management, Safety Officer perlu mampu menjelaskan masalah secara ringkas dan strategis.

Informasi dapat mencakup kondisi, risiko, dampak, prioritas, serta rekomendasi tindakan.

10. Mengelola Perbedaan antara Safety dan Production

Dalam kondisi tertentu, Safety Officer dapat menghadapi tekanan terhadap target produksi.

Ketika terjadi perbedaan kepentingan, komunikasi asertif membantu Safety Officer menyampaikan risiko secara profesional dan mencari solusi yang tetap memperhatikan keselamatan.

11. Membangun Safety Conversation

Safety conversation merupakan kesempatan untuk membangun kesadaran keselamatan melalui percakapan singkat di lapangan.

Pembicaraan dapat membahas pekerjaan yang sedang dilakukan, potensi bahaya, tindakan pencegahan, serta pengalaman pekerja.

12. Memberikan Feedback

Feedback sebaiknya diberikan secara spesifik.

Safety Officer dapat menjelaskan perilaku yang diamati, dampaknya, dan tindakan yang diharapkan.

Feedback yang jelas membantu pekerja memahami apa yang perlu diperbaiki.

13. Menangani Konflik

Perbedaan pendapat dapat terjadi ketika Safety Officer meminta pekerjaan dihentikan atau meminta tindakan korektif dilakukan.

Komunikasi asertif membantu menjaga diskusi tetap fokus pada fakta, risiko, dan solusi.

14. Meningkatkan Kemampuan Persuasi

Safety Officer perlu memengaruhi perilaku tanpa selalu mengandalkan kewenangan formal.

Kemampuan persuasi membantu pekerja memahami manfaat dari perilaku kerja yang aman.

15. Menghindari Bahasa yang Menghakimi

Bahasa yang menyalahkan dapat membuat seseorang menjadi defensif.

Lebih baik fokus pada tindakan dan kondisi yang ditemukan daripada menyerang karakter individu.

16. Membangun Psychological Safety dalam Komunikasi

Pekerja perlu merasa cukup aman untuk menyampaikan kondisi tidak aman, near miss, atau masalah yang mereka temukan.

Safety Officer dapat membantu membangun lingkungan komunikasi yang terbuka dan berorientasi pada perbaikan.

17. Komunikasi dalam Toolbox Meeting

Toolbox meeting dapat menjadi media untuk menyampaikan risiko pekerjaan sebelum aktivitas dimulai.

Safety Officer perlu memastikan pesan singkat, relevan, dan berhubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan.

18. Komunikasi saat Kondisi Darurat

Dalam kondisi darurat, komunikasi harus lebih singkat dan jelas.

Safety Officer perlu menyampaikan instruksi yang mudah dipahami dan memastikan pihak terkait mengetahui tindakan yang harus dilakukan.

19. Meningkatkan Koordinasi Lintas Departemen

HSE membutuhkan koordinasi dengan production, maintenance, engineering, warehouse, HR, GA, dan berbagai fungsi lainnya.

Komunikasi asertif membantu setiap pihak memahami tanggung jawabnya dalam menjaga keselamatan.

20. Menjadi Role Model Komunikasi Keselamatan

Safety Officer harus menjadi contoh dalam cara berkomunikasi.

Ketegasan, profesionalisme, kemampuan mendengarkan, dan konsistensi dalam menyampaikan pesan akan memengaruhi persepsi pekerja terhadap fungsi HSE.

Framework Komunikasi Asertif HSE

Safety Officer dapat menggunakan pendekatan sederhana berikut ketika menyampaikan temuan:

  1. Observe: jelaskan kondisi yang diamati.
  2. Explain: jelaskan risiko yang mungkin terjadi.
  3. Clarify: tanyakan alasan atau kendala yang dihadapi.
  4. Recommend: sampaikan tindakan aman yang diperlukan.
  5. Confirm: pastikan pesan dipahami.
  6. Follow Up: lakukan monitoring terhadap tindakan korektif.

Contoh Situasi Komunikasi di Lapangan

Ketika Pekerja Tidak Menggunakan APD

Safety Officer dapat menjelaskan tindakan yang diamati, risiko yang berkaitan dengan pekerjaan, kemudian meminta pekerja menggunakan APD sesuai ketentuan.

Ketika Supervisor Menolak Temuan

Safety Officer dapat mengembalikan pembicaraan pada data, kondisi aktual, standar yang berlaku, dan risiko apabila kondisi tersebut dibiarkan.

Ketika Pekerjaan Berisiko Harus Dihentikan

Safety Officer perlu menyampaikan alasan penghentian secara jelas dan membantu pihak terkait memahami tindakan yang diperlukan sebelum pekerjaan dilanjutkan.

Kesalahan Komunikasi yang Perlu Dihindari Safety Officer

  • Terlalu pasif ketika menemukan kondisi berbahaya.
  • Menggunakan nada bicara yang agresif.
  • Mempermalukan pekerja di depan orang lain.
  • Tidak mendengarkan alasan pekerja.
  • Menyampaikan pesan terlalu panjang.
  • Menggunakan istilah yang sulit dipahami.
  • Tidak menjelaskan risiko.
  • Tidak memberikan solusi.
  • Tidak melakukan follow-up.
  • Hanya fokus mencari kesalahan.

Apa yang Banyak Kami Temukan di Lapangan

Dalam pengembangan kompetensi HSE, tantangan yang sering muncul bukan hanya pemahaman terhadap prosedur keselamatan, tetapi bagaimana Safety Officer menyampaikan dan memengaruhi perilaku di lapangan.

Safety Officer dapat memiliki pengetahuan HSE yang baik, tetapi tetap membutuhkan kemampuan komunikasi, persuasi, negosiasi, conflict management, dan leadership untuk membangun budaya keselamatan.

Karena itu, pelatihan Safety Officer pabrik dapat dilengkapi dengan pengembangan komunikasi interpersonal agar pesan keselamatan lebih efektif diterima oleh pekerja dan pemimpin operasional.

Materi Kelas Komunikasi Asertif HSE

Program dapat mencakup materi:

  • Fundamental komunikasi asertif.
  • Passive, aggressive, dan assertive communication.
  • Active listening.
  • Effective safety communication.
  • Memberikan feedback.
  • Teknik melakukan teguran.
  • Persuasion skill.
  • Conflict management.
  • Komunikasi lintas departemen.
  • Safety conversation.
  • Komunikasi saat kondisi darurat.
  • Safety leadership.

Metode Pembelajaran

Studi Kasus

Peserta membahas situasi nyata seperti unsafe act, konflik safety-production, penolakan terhadap temuan, dan masalah komunikasi dengan supervisor.

Role Play

Peserta berlatih melakukan teguran, memberikan feedback, menyampaikan temuan, serta melakukan komunikasi dengan pekerja dan supervisor.

Simulation

Peserta menghadapi simulasi kondisi lapangan yang membutuhkan komunikasi tegas dan cepat.

Group Discussion

Peserta mendiskusikan tantangan komunikasi HSE berdasarkan pengalaman di lingkungan kerja masing-masing.

Action Plan

Peserta menyusun rencana penerapan komunikasi asertif dalam aktivitas HSE sehari-hari.

Manfaat Program bagi HSE/Safety Officer

Program dapat membantu peserta:

  • Meningkatkan kemampuan komunikasi asertif.
  • Menyampaikan pesan keselamatan dengan lebih jelas.
  • Meningkatkan kemampuan memberikan teguran.
  • Mengelola percakapan sulit.
  • Meningkatkan kemampuan mendengarkan.
  • Mengelola konflik dengan lebih profesional.
  • Meningkatkan koordinasi lintas departemen.
  • Meningkatkan kemampuan persuasi.
  • Membangun safety conversation.
  • Mendukung budaya keselamatan kerja.

Peran Mindset Indonesia

Mindset Indonesia Training membantu perusahaan mengembangkan kompetensi leadership, komunikasi, manajemen, teamwork, problem solving, budaya kerja, dan produktivitas organisasi.

Program komunikasi asertif HSE dapat disesuaikan dengan level peserta, kebutuhan perusahaan, karakteristik pekerjaan, serta tantangan komunikasi yang dihadapi fungsi HSE.

Pembelajaran dapat menggunakan teori, studi kasus, diskusi, simulasi, role play, dan action plan agar peserta dapat menghubungkan materi dengan kondisi nyata di lingkungan pabrik.

Penutup

Safety Officer memiliki tanggung jawab penting dalam membangun kesadaran dan perilaku keselamatan di lingkungan pabrik. Untuk menjalankan peran tersebut secara efektif, kemampuan teknis HSE perlu didukung dengan kemampuan komunikasi interpersonal yang kuat.

Komunikasi asertif HSE membantu Safety Officer menyampaikan pesan secara tegas, jelas, dan profesional tanpa menciptakan komunikasi yang agresif.

Dengan kemampuan komunikasi yang baik, Safety Officer dapat membangun koordinasi yang lebih efektif, menangani konflik, memberikan feedback, meningkatkan kesadaran risiko, serta mendorong budaya keselamatan yang lebih kuat.


📖 Baca Juga


FAQ

Apa yang dimaksud dengan komunikasi asertif HSE?

Komunikasi asertif HSE adalah kemampuan menyampaikan pesan, teguran, informasi risiko, atau standar keselamatan secara jelas dan tegas dengan tetap menghargai pihak yang diajak berkomunikasi.

Mengapa Safety Officer perlu menguasai komunikasi asertif?

Karena Safety Officer sering harus menyampaikan teguran, menjelaskan risiko, melakukan koordinasi, menangani konflik, dan memengaruhi perilaku pekerja agar standar keselamatan diterapkan.

Apa perbedaan komunikasi asertif dan agresif?

Komunikasi agresif cenderung menyerang atau merendahkan pihak lain, sedangkan komunikasi asertif menyampaikan pesan secara tegas dan jelas dengan tetap menghargai pihak lain.

Bagaimana cara menegur pekerja yang melakukan unsafe act?

Safety Officer dapat menjelaskan kondisi yang diamati, risiko yang mungkin terjadi, mendengarkan alasan pekerja, kemudian menyampaikan tindakan aman yang perlu dilakukan.

Bagaimana menghadapi supervisor yang menolak temuan HSE?

Gunakan komunikasi berbasis fakta dengan menjelaskan kondisi aktual, risiko, standar yang berlaku, serta dampak apabila kondisi tidak segera diperbaiki.

Apakah kelas ini cocok untuk HSE/Safety Officer?

Ya. Program dapat dirancang untuk HSE Officer, Safety Officer, HSE Supervisor, Safety Supervisor, maupun personel lain yang memiliki tanggung jawab dalam komunikasi keselamatan.

Apakah program dapat dilakukan secara in house?

Ya. Program dapat dilakukan secara in house dengan materi, studi kasus, simulasi, dan role play yang disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi perusahaan.

Konsultasi Training